WAKTU INDONESIA BARAT

Minggu, 02 Mei 2010

Selamat Idul Fitri

0 komentar
Puisi Gus MusOleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Sejak malam
Bahkan beberapa malam yang lalu
Hari sudah tahu kemenangannya
Akan datang


Seperti tak sabar
Semalan langit bergaung-gaung
Melantunkan takbir yang hingar bingar
Allahu Akbar! Walillahil hamdu !
Ramadhan seperti malas pergi
Seperti ada yang masih mengganjal
Belum tuntas diselesaikan
Tapi tak sabar lagi
Semua sudah dipersiapkan
Bagi melepasnya seadanya
Hari ini dan mungkin beberapa hari
Sesudah hari ini
Hari yang bersuka-ria
Adakah kau sedang mensyukuri
Kemenanganmu atas setan dan nafsu
Dibulan puasa, maka o, alangkah gembira
Ataukah karena kini
Kau terbebas lagi seperti semula
Tak ada lagi yang kau sungkani ?
Apakah ini kemenanganmu
Atau lagi-lagi kemenangan
Setan dan nafsu atas dirimu ?
Betapapun Allahu Akbar !
Bagaimanapun, waliLlahil hamdu !
Selamat Idul Fitri, mata
Maafkanlah aku selama ini
Kau hanya kugunakan melihat kilau comberan
Selamat Idul fitri telinga
maafkanlah aku, selama ini
Kau hanya kusumpali rongsokan-rongsokan kata
Selamat Idul fitri, mulut
Maafkanlah aku, selama ini
Kau hanya kujejali dan kuumbat muntahan
Onggokan-onggokan kotoran
Selamat Idul fitri, tangan
Maafkanlah aku; selama ini
Kau hanya kugunakan mecakar-cakar kawan
Dan berebut remah-remah murahan
Selamat Idul Fitri, kaki
Maafkanlah aku; selama ini
Kau hanya kuajak menendang kanan-kiri
Dan berjalan di lorong-lorong kegelapan
Selamat Idul Fitri, akal budi
Maafkanlah aku; selama ini
Kubiarkan kau terpenjara sendiri
Selamat Idul Fitri, diri
Marilah menjadi manusia kembali


Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini
Continue reading →

Nasehat Ramadhan buat Musthofa Bisri

0 komentar
Puisi Gus MusOleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Musthafa, jujurlah pada dirimu sendiri mengapa kau selalu mengatakan Ramadhan bulan ampunan.
Apakah hanya menirukan Nabi atau dosa-dosamu dan harapanmu yang berlebihanlah yang menggerakkan lidahmu begitu.
Musthafa, Ramadhan adalah bulan antara dirimu dan Tuhanmu.
Darimu hanya untukNya. Dan Ia sendiri tak ada yang tau apa yang akan dianugerahkanNya kepadamu.
Semua yang khusus untukNya, khusus untukmu.
Musthafa, Ramadhan adalah bulanNya yang Ia serahkan padamu, dan bulanmu serahkanlah semata-mata padaNya.
Bersucilah untukNya, bershalatlah untukNya, berpuasalah untukNya, berjuanglah melawan dirimu sendiri untukNya.

Sucikan kelaminmu berpuasalah,
Sucikan tanganmu berpuasalah
Sucikan mulutmu berpuasalah
Sucikan hidungmu berpuasalah
Sucikan wajahmu berpuasalah
Sucikan matamu berpuasalah
Sucikan telingamu berpuasalah
Sucikan rambutmu berpuasalah
Sucikan kepalamu berpuasalah
Sucikan kakimu berpuasalah
Sucikan tubuhmu berpuasalah
Sucikan hatimu, sucikan pikiranmu berpuasalah
Sucikan dirimu….

Musthafa, bukan perut yang lapar, bukan tenggorokan yang kering yang mengingatkan kedhaifan, dan melembutkan rasa.
Perut yang kosong dan ternggorokan yang kering ternyata hanya penunggu atau perebut kesempatan yang tak sabar atau terpaksa.
Barangkali lebih sabar sedikit dari mata, tangan, kaki, dan kelamin. Lebih tahan sedikit berpuasa. Tapi hanya kau yang tau, hasrat dikekang untuk apa? Dan untuk siapa?

Puasakan kelaminmu untuk memuasi ridha,
Puasakan tanganmu untuk menerima kurnia
Puasakan mulutmu untuk merasai firman
Puasakan hidungmu untuk menghirup wangi
Puasakan wajahmu untuk menghadap keelokan
Puasakan matamu untuk menatap cahya
Puasakan telingamu untuk menangkap merdu
Puasakan rambutmu untuk menyerap belai
Puasakan kepalamu untuk menekan sujud
Puasakan kakimu untuk menapak shirath
Puasakan tubuhmu untuk meresapi rahmat
Puasakan hatimu untuk menikmati hakikat
Puasakan pikiranmu untuk meyakini kebenaran
Puasakan dirimu untuk menghayati hidup

Tidak…Puasakan hasratmu hanya untuk hadhiratNya.
Musthafa, Ramadhan bulan suci katamu
Kau menirukan ucapan Nabi atau kau telah merasakan sendiri kesuciannya melalui kesucianmu
Tapi bukanlah kau masih selalu menunda-nunda menyingkirkan kedengkian, keserakahan, ujub, riya, takabur, dan sampah-sampah lainnya yang mampat dari comberan hatimu.

Musthafa, inilah bulan baik saat baik untuk kerjabakti membersihkan hati
Inilah bulan baik saat baik untuk merobohkan berhala dirimu yang secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi kau puja selama ini.

Atau akan kau lewatkan lagi kesempatan ini seperti ramadhann-ramadhan yang lalu?


Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini
Continue reading →

Wanita Cantik Sekali di Multazam

0 komentar
Puisi Gus MusOleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Di tengah-tengah himpitan daging-daging doa
di pelataran rumahmu yang agung
aku mengalirkan diri dan ratapku
hingga terantuk pada dinding mustajab-Mu
menumpahkan luap pinta di dadaku


Ku baca segala yang bisa ku baca
dalam berbagai bahasa runduk hamba dari tahlil ke tasbih,
dari tasbih ke tahmid, dari tahmid ke takbir,
dari takbir ke istighfar, dari istighfar ke syukur,
dari syukur ke khauf, dari khauf ke raja, dari raja ke khauf
raja khauf
khauf raja
raja khauf
khauf raja
sampai tawakkal

Tiba-tiba sebelum benar-benar fana melela dari arah Multazam
seorang wanita cantik sekali
masya Allah tabarakAllah !
Allah, apa amalku jikak kurnia
apa dosaku jika coba ?

Allah, putih kulitnya dalam putih kerudungnya
Indah sekali alisnya
Indah sekali matanya
Indah sekali hidungnya
Indah sekali bibirnya
Dalam indah wajahMu

Allahku, ku nikmati keindahan dalam keindahan
Di atas keindahan di bawah keindahan
Di kanan-kiri keindahan
Di tengah-tengah keindahan yang indah sekali

Allahku, inilah kerapuhanku ! tak kutanyakan kenapa
Engkau bertanya bukan ditanya kenapa
Tapi apa jawabku?ampunilah aku—tanyalah jua yang ku punya kini:

Allahku mukallafkah aku dalam keindahanMu ?


Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini
Continue reading →

Lirboyo, Kaifa Hall....

0 komentar
Puisi Gus MusOleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Lirboyo,
Masihkah tebu-tebu berderet manis melambai di sepanjang jalan menyambut langkah gamang santri anyar menuju gerbangmu? Ataukah seperti di mana-mana pabrik-pabrik dan bangunan bangunan bergaya spanyolan yang angkuh dan genit menggantikannya?

Lirboyo,
Masikah mercusuar-mercuar petromak sepembuluh bambu setia menemani para santri barsaharul layali? Ataukah seperti di mana-mana neon-neon kebiruan yang berjaga kini seperti bola-bola lampu menggantikan teplok-teplok gothakan?

Lirboyo,
Masihkah shorof dan i'lal dihafal diserambi, dapur dan pematang? Dan senandung alfiah membuai merdu? Ataukah seperti di mana-mana santri lebih suka menghafal lagu-lagu dan alunan dangdut dari transistor modern masa kini?

Lirboyo,
Masihkah musyawarah pendalaman ilmu dan halaqoh-halaqoh menghidupkan malam-malam penuh ghirah dan himmah? Ataukah seperti di mana-mana diskusi-diskusi sarat ietilah tanpa kelanjutan dinilai lebih bergengsi dan bergaya?

Lirboyo,
Masihkah sari-sari pikiran al Ghazaly dikaji sore dan setiap saat dicontohkan dalam perilaku Bapak Kiai? Ataukah seperti di mana-mana penggalan-penggalan kata-kata mutiara dianggap lebih bermakna salam kaligrafi dan majalah-majalah?

Lirboyo,
masihkah santri-santri bersama-sama melakukan sholat setiap waktu dalm derajat ganjaranya yang berlipat da puluh tujuh? Ataukah seperti di mana-mana orang merasa tak punya waktu sibuk memburu saat-saat kesendirian untuk diri sendiri?

Lirboyo,
Masihkah Mbah Manab, Mbah Marzuqi, dan Mbah Mahrus memercikkan tsawab berkah dala, suksesi ilmu dan amaliyah? Ataukah di mana-mana mereka tidak punya arti apa-apa kecuali buat dikenang sesekali dalam upacara haul yang gegap gempita?

Lirboyo,
Masihkah senggotmu tersa berat bagi penimbanya? Ataukah lebih beraat lagi?


Lirboyo,
Kaifa Hal? Bagaimana kabar Gus Idris, Gus War, Gus Imam, Gus Maksum?

Lirboyo,
Di mana-mana ada lirboyo
Di mana-mana ada Mbah Manab
Di mana-mana ada Mbah Marzuqi
Di mana-mana ada Mbah Mahrus
Dari senggotmu mereka menimba

Lirboyo,
Aku Rindu Kau...!!!


________________
Rembang, 821407
Ahmad Musthofa Bisri

Download puisi Gus Mus versi mp3 klik disini
Continue reading →

TADDARUS

0 komentar
Puisi Gus MusOleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)


Bismlllahirrahmanir Rahiim
Berhenti mengalir darahku menyimak firmanMu
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3)
Ketika bumi diguncang dengan dahsyatnya
Dan bumi memuntahkan isi perutnya
Dan manusia bertanya-tanya, bumi ini kenapa?
يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6)
Ketika itu, bumi mengisahkan kisah-kisahnya
Karena Tuhanmu mengilhaminya
Ketika itu, manusia tumpah terpisah-pisah
Untuk diperlihatkan perbuatan-perbuatan mereka
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)
Maka siapa yang berbuat sezarrah kebaikanpun akan melihatnya
Dan siapa yang berbuat sezarrah kejahatanpun akan melihatnya

Ya Tuhan, akukah insan yang bertanya-tanya
Ataukah aku mukmin sudah tahu jawabanya?
Kulihat tetas diriku dalam muntahan isi Bumi
Aduhai… akan kemanakan kiranya bergulir
Diantara tumpukan maksiat yang kutimbun saat demi saat
Akankah akan kulihat sezarrah saja kebaikan yang pernah ku buat

Nafas gemuruh diburu firmanMu
Dengan asma Allah yang pengasih penyayang
وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا (1) فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (2) فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا (3) فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا (4) فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا (5)
Demi.. yang sama berpacu berdengkusan, yang sama mencetuskan api berdenyaran, yang pagi-pagi melancarkan serbuan, menerbangkan debu berhamburan, dan menembusnya ke tengah-tengah pasukan lawan.
إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (6) وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ (7) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (8)
Sungguh…manusia itu kepada Tuhannya sangat tidak tahu berterima kasih
Sungguh manusia itu sendiri tentang itu jadi saksi,
dan sungguh manusia itu sayangnya kepada harta luar biasa
أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ (9) وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ (10) إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ (11)
Tidakkah manusia itu tahu saat isi kubur dihamburkan
Saat isi dada ditumpahkan
Sungguh, tuhan mereka terhadap mereka saat itu tahu belaka

Ya Tuhan, kemana gerangan butir debu ini kan menghambur
Adakah secercah syukur menempel ketika isi dada dimuntahkan, ketika semua kesayangan dan andalan entah kemana?


Meremang bulu romaku diguncang firmanMu
Bismillahirahmaanirahiim.
الْقَارِعَةُ (1) مَا الْقَارِعَةُ (2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ (3)
Penggetar hati. Apakah penggetar hati itu? Tau kau apa itu penggetar hati?
Resah sukmaku dirasuki firmanMu
يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ (4) وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (5)
Itulah hari manusia bagaikan belalang beterbangan dan gunung-gunung bagai bulu dihambur terbangkan
Menggigil ruas-ruas tulangku dalam firmanMu.
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ (6) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ (7) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (8) فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (9) وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ (10) نَارٌ حَامِيَةٌ (11)
Barang siapa berbobot timbangan amalnya, ia akan berada dalam kehidupan memuaskan, dan barang siapa enteng timbangan amalnya tempat tinggalnya di Hawiyyah. Tau kau apa itu? Api yang sangat panas membakar.
Ya Tuhan, kemana gerangan belalang malang ini kan terlempar. Gunung amal yang dibanggakan jadikah selembar bulu saja memberati timbangan. Ataukah gunung-gunung dosa akan melumatnya bagi persembahan lidah hawiyyah. Ataukah …. Oooh kalau saja Yang Maha RahmatMu akan menerbangkannya ke lautan ampunan…. Shadaqallalhul adziim.

Download puisi Gus Mus versi mp3 klik di sini
Continue reading →

SURABAYA

0 komentar
Puisi Gus MusOleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)


Jangan anggap mereka kalap
jika mereka terjang senjata sekutu lengkap
jangan dikira mereka nekat
karena mereka cuma berbekal semangat
melawan seteru yang hebat
Jangan sepelekan senjata di tangan mereka
atau lengan yang mirip kerangka
Tengoklah baja di dada mereka
Jangan remehkan sesobek kain di kepala
tengoklah merah putih yang berkibar
di hati mereka
dan dengar pekik mereka
Allahu Akbar !

Dengarlah pekik mereka
Allahu Akbar !
Gaungnya menggelegar
mengoyak langit
Surabaya yang murka
Allahu Akbar
menggetarkan setiap yang mendengar
Semua pun jadi kecil
Semua pun tinggal seupil
Semua menggigil.

Surabaya,
O, kota keberanian
O, kota kebanggaan
Mana sorak-sorai takbirmu
yang membakar nyali kezaliman ?
mana pekik merdekamu
Yang menggeletarkan ketidakadilan ?
mana arek-arekmu yang siap
menjadi tumbal kemerdekaan

dan harga diri
menjaga ibu pertiwi
dan anak-anak negeri.
Ataukah kini semuanya ikut terbuai
lagu-lagu satu nada
demi menjaga

keselamatan dan kepuasan
diri sendiri
Allahu Akbar !

Dulu Arek-arek Surabaya
tak ingin menyetrika Amerika
melinggis Inggris
Menggada Belanda
murka pada Gurka
mereka hanya tak suka
kezaliman yang angkuh merejalela
mengotori persada
mereka harus melawan
meski nyawa yang menjadi taruhan
karena mereka memang pahlawan

Surabaya
Dimanakah kau sembunyikan
Pahlawanku ?

Puisi dan Musik Mengenang Pahlawan,
Jakarta, 1994
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air (Kumpulan sajak, Oyon Sofyan, 1995)
Continue reading →

PUTRA-PUTRA IBU PERTIWI

0 komentar
Puisi Gus MusOleh : Oleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Bagai wanita yang tak ber-ka-be saja
Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya
Pahlawan-pahlawan bangsa
Dan patriot-patriot negara

(Bunga-bunga
kalian mengenalnya
Atau hanya mencium semerbaknya)

Ada yang gugur gagah dalam gigih perlawanan
Merebut dan mempertahankan kemerdekaan

(Beberapa kuntum
dipetik bidadari sambil senyum
Membawanya ke sorga tinggalkan harum)

Ada yang mujur menyaksikan hasil perjuangan
Tapi malang tak tahan godaan jadi bajingan

(Beberapa kelopak bunga
di tenung angin kala
Berubah jadi duri-duri mala)

bagai wanita yang tak ber-ka-be saja
Ibu pertiwi terus melahirkan putra-putranya
Pahlawan-pahlawan dan bajingan-bajingan bangsa

(di tamansari
bunga-bunga dan duri-duri
Sama-sama diasuh mentari)

Anehnya yang mati tak takut mati justru abadi
Yang hidup senang hidup kehilangan jiwa

(mentari tertawa sedih memandang pedih
Duri-duri yang membuat bunga-bunga tersisih)

Puisi dan Musik Mengenang Pahlawan,
Jakarta, 1994
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air (Kumpulan sajak, Oyon Sofyan, 1995)
Continue reading →

NEGERIKU

0 komentar
Puisi Gus MusOleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)


mana ada negeri sesubur negeriku?
sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung
tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung
perabot-perabot orang kaya didunia

dan burung-burung indah piaraan mereka
berasal dari hutanku
ikan-ikan pilihan yang mereka santap
bermula dari lautku
emas dan perak perhiasan mereka
digali dari tambangku
air bersih yang mereka minum
bersumber dari keringatku

mana ada negeri sekaya negeriku?
majikan-majikan bangsaku
memiliki buruh-buruh mancanegara
brankas-brankas ternama di mana-mana
menyimpan harta-hartaku
negeriku menumbuhkan konglomerat
dan mengikis habis kaum melarat
rata-rata pemimpin negeriku
dan handai taulannya
terkaya di dunia

mana ada negeri semakmur negeriku
penganggur-penganggur diberi perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat-rakyat kecil menyumbang
negara tanpa imbalan
rampok-rampok dibri rekomendasi
dengan kop sakti instansi
maling-maling diberi konsesi
tikus dan kucing
dengan asyik berkolusi

(Mustofa Bisri 1414)

S O A L

Rakyat – (Penguasa + Pengusaha) : (Umara + Ulama) +
(Legislatif – Eksekutif) + (Cendekiawan x Kiai) = ?

(Mustofa Bisri 1993)
Continue reading →

MAJU TAK GENTAR

0 komentar
Puisi Gus MusOleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)

Maju tak gentar
Membela yang mungkar
Maju tak gentar
Hak orang diserang
Maju tak gentar
“Pasti kita menang!”

(Mustofa Bisri 1993)
Pahlawan dan Tikus, kumpulan puisi K.H.A. Mustofa Bisri
Continue reading →

DI TAMAN PAHLAWAN

0 komentar
Puisi Gus MusOleh : KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)


Di taman pahlawan beberapa pahlawan sedang berbincang-
bincang tentang keberanian dan perjuangan.
Mereka bertanya-tanya apakah ada yang mewariskan semangat
perjuangan dan pembelaan kepada yang
ditinggalkan
Ataukah patriotisme dan keberanian di zaman pembangunan ini
sudah tinggal menjadi dongeng dan slogan ?
banyak sekali tokoh di situ yang diam-diam ikut mendengarkan
dengan perasan malu dan sungkan
Tokoh-tokoh ini menyesali pihak-pihak yang membawa mereka
kemari karena menyangka mereka juga pejuang-
pejuang pemberani. Lalu menyesali diri mereka sendiri yang dulu
terlalu baik memerankan tokoh-tokoh gagah
berani tanpa mengindahkan nurani.
(Bunga-bunga yang setiap kali ditaburkan justru membuat mereka
lebih tertekan)

Apakah ini yan namanya siksa kubur ?
tanya seseorang di antara mereka yang dulu terkenal takabur
Tapi kalau kita tak disemayamkan di sini, makam pahlawan ini
akan sepi penghuni, kata yang lain menghibur.

Tiba-tiba mereka mendengar Marsinah.
Tiba-tiba mereka semua yang di Taman Pahlawan,
yang betul-betul pahlawan atau yang keliru dianggap pahlawan,
begitu girang menunggu salvo ditembakkan dan genderang
penghormatan ditabuh lirih mengiringi kedatangan
wanita muda yang gagah perkasa itu

Di atas, Marsinah yang berkerudung awan putih
berselendang pelangi tersenyum manis sekali :
maaf kawan-kawan, jasadku masih dibutuhkan
untuk menyingkapkan kebusukan dan membantu mereka
yang mencari muka.
kalau sudah tak diperlukan lagi
biarlah mereka menanamkannya di mana saja di persada ini
sebagai tumbal keadilan atau sekedar bangkai tak berarti

(1441)

Pusi dan Musik Mengenang pahlawan,
Jakarta, 1994
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air (Kumpulan puisi, Oyon Sofyan, 1995)
Continue reading →